Muhammad Irawan Saputra

Home » Uncategorized » Sepak Terjang Pemilik Media di Indonesia

Sepak Terjang Pemilik Media di Indonesia

Terlihat saat ini para pemilik media sangat kuat dalam posisi mereka dalam mengontrol asumsi masyarakat. Pemilik media secara leluasa mengontrol isi tiap media yang mereka punyai untuk mengarahkan pemikiran masyarakat. Abu Rizal Bakrie mampu mengalihkan perhatian masyarakat  terhadap kasus Lapindo dengan berbagai medianya. Pemerintah dengan partai Demokrat yang sudah tidak akur lagi dengan para pemilik media harus rela tersudut oleh kepungan kritik dari masyarakat yang diarahkan oleh media.   Menurut Meier, pemilik media dapat memainkan peranan yang signifikan dalam melakukan legitimasi terhadap ketidaksetaraan pendapatan (wealth), kekuasaan (power) dan privilege.

Pemilik Media sebagaimana pengusaha dalam bidang lain tentu mengalami pasang surut. Akuisisi dan Mergerpun terjadi seperti perusahaan-perusahaan lain sebagai salah satu mempertahankan eksistensi. Akuisisi dan Merger ini bagi pengusaha Media kelas kakap menjadi strategi dalam melebarkan sayap bisnisnya.

Sebagai contoh, Bakri melakukan strategi ini di ANTV. Ia juga mengakuisisi Lativi dan mengubah namanya menjadi TV One. ANTV yang dulunya diarahkan lebih ke keluarga diubah menjadi televisi dengan corak olahraga. Lativi yang dulunya jauh dari kesan televisi berita, sekarang sangat fokus ke televisi berita.

Chairul Tanjung juga tidak kalah langkah. Ia yang sebelumnya sudah memiliki Trans TV, mengakuisisi TV 7 dan mengubah namanya menjadi Trans 7. Kedua televisi miliknya ini mempunyai konsep hiburan. Keduanya hanya dibedakan oleh bidikan pangsa pasar.Trans TV mengambil pangsa pasar menengah keatas, sedangkan Trans 7 untuk kalangan menengah kebawah.

Contoh lain bisa dilihat dari kemunduran yang dialami oleh TPI dan Global TV. Kedua stasiun televisi ini akhirnya melakukan merger dengan RCTI yang akhirnya membentuk MNC Group. Bergabungnya TPI dengan Global TV dan RCTI di bawah satu atap ditandai dengan perubahan nama menjadi MNC TV. MNC Group mengembangkan bisnisnya tidak hanya di televisi, tetapi telah berkembang di radio, bahkan diluar dunia broadcasting yaitu asuransi.

Perusahaan media besar yang sukses berkembang di luar Jakarta, Jawa Pos Group pun melakukan strategi ini untuk mengembangkan pengaruhnya. Jawa Pos Group terkenal dengan Jaringan media lokal yang disebut Jawa Pos News Network (JPNN). Mereka mengangkat kelokalan tiap daerah dengan media yang telah mereka bentuk di tiap daerah tersebut. Jaringan ‘radar’ di tiap daerah berkembang sangat pesat. Jaringan ini adalah rubrik tambahan di tiap kota yang disisipkan di tiap koran Jawa Pos mendampingi berita-berita nasional. Jaringan ini memiliki kantor dan struktur di tiap kota. Setelah jaringan media cetak dengan radarnya kuat di satu kota mereka akan mengembangkan televisi di tiap kota dengan berdasar jaringan ‘radar’ tersebut. Televisi yang mereka kembangkan di tiap kota adalah JTV. Misalkan setelah ‘radar Kediri’ berkembang bagus saat ini sudah muncul JTV Kediri.

Pengaruh Merger dan Akuisisi Terhadap Isi Siaran

Merger dan Akuisisi tentu sangat berpengaruh terhadap isi media. Strategi ini membuat banyak media akan tunduk pada satu orang pemilik. Ketundukan ini akan menghasilkan produk media yang terkontrol searah sesuai dengan kemauan pemilik tersebut. Tiap media yang berada dibawah tangan satu pemilik tertentu akan terkungkung independensinya. Seperti telah dicontohkan sebelumnya TV One tentu tidak bisa dengan leluasa memberitakan Korban Lumpur Lapindo karena TV One dimiliki oleh orang yang juga memiliki Lapindo yaitu Bakrie Group.

Bukan hanya independensi saja yang menjadi korban atas adanya merger dan akuisisi ini, namun media akhirnya menjadi alat para pemilik media untuk mendukung kepentingan politiknya. Chairul Tanjung sebagai pemilik Trans TV dan Trans 7 secara terang-terangan dalam tayangan di televisinya memihak kepada satu partai. Metro TV yang dimiliki Surya Paloh secara terus menerus memberitakan setiap detail kegiatan satu partai dan mengangkat nama pemiliknya dalam politik dengan terang-terangan. Jawa Pos pun memberitakan dengan gencar dan detail setiap kebijakan yang dibuat oleh pemiliknya yang sekarang ini menjadi menteri.

Selain independensi yang terancam dan arahan pemilik, keberagaman isi media akan terancam juga dengan strategi ini. Nama-nama media yang begitu banyak tetapi hanya dimiliki oleh beberapa orang saja akan membuat informasi-isnformasi yang disampaikan akan seragam. Keadaan ini akan membuat masyarakat akan miskin referensi dari sebuah kejadian. Masyarakat hanya akan melihat dari beberapa sudut pandang saja mengenai suatu permasalahan. Padahal dengan banyaknya nama media yang ada seharusnya masyarakat akan memiliki sudut pandang sebanyak nama media tersebut. Sudut pandang inilah yang menentukan kedewasaan dalam mengambil sikap dalam permasalahan. Singkatnya akuisisi dan merger ini berpengaruh terhadap kedewasaan masyarakat dalam mengambil sikap.

Memang tidak mungkin menuntut media sangat netral dalam menyikapi semua masalah karena banyak faktor yang mempengaruhinya seperti yang dijelaskan pada jawaban nomor satu sebelumnya. Walaupun begitu, usaha untuk membuat media senetral mungkin tentu harus terus dilakukan. Kentralan dan keragaman isi media akan membuat masyarakat memiliki banyak referensi dan membuat masyarakat lebih dewasa dalam menyikapi sesuatu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: