Muhammad Irawan Saputra

Home » komunikasi budaya » Promosi Multikulturalisme Dengan Media Massa & PR

Promosi Multikulturalisme Dengan Media Massa & PR

Media telah memproduksi dan mereproduksi budaya di masyarakat. Keadaan tersebut bersifat global karena cakupan teknologi media yang begitu besar. Masyarakat berbeda budaya yang terpisah jarak yang sangat jauh mampu bertukar informasi dan melakukan aktifitas ekonomi secara leluasa. Semua ini membentuk sebuah kebudayaan baru yaitu kebudayaan global.

Kebudayaan global ini memberikan kebebasan besar setiap manusia dalam bertindak. Hal ini tentu memberikan perubahan besar bagi kebudayaan lokal. Media massa berperan dalam perubahan tersebut dengan mengkonstruksi realitas dan menampilkannya sebagai referensi masyarakat dalam bertindak.

Konstruksi yang dilakukan media tidak berjalan begitu saja tanpa kepentingan, namun teah dikontrol sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu. Pengemasan tiap materi programpun dilakukan dengan sangat teliti dan strategis untuk mengubah sikap ataupun mengarahkan pandangan masyarakat untuk kepentingan penguasa modal.

Keadaan ini telah terjadi semenjak masa Orde Baru. TVRI saat itu yang menjadi satu-satunya stasiun televisi menjadi corong pemerintah dalam menyampaikan propagandanya. Saat ini keadaan berubah bukan pemerintah yang dominan mengendalikan informasi, namun para pemilik modal lah yang menguasai informasi.

Sejauh ini media di Indonesia telah memberikan promosi paham multikultur kepada masyarakat, walaupun kurang maksimal. Muatan multikultural sering disampaikan oleh TVRI walaupun pengemasannya kurang terkesan seadanya. Muatan multikultural disampaikan lewat penampilan berbagai karya dari berbagai budaya.

Penyampaian muatan multikultural tersebut tersampaikan karena memang TVRI tidak mempunyai target tinggi dalam keuntungan karena pendanaanya didukung pemerintah. Pendanaan yang pasti itu juga menjadikan TVRI tidak mempunyai semangat kompetitif dalam mengemas program-programnya. Pengemasan yang tidak maksimal tersebut membuat muatan multikultural tidak tersampaikan secara massal.

Apa yang bisa kita lihat dari efek media saat ini masih memperlihatkan hal yang bertolak belakang dengan semangat multikulturalisme. Media saat ini mempengaruhi khalayaknya dengan menciptakan pemahaman seragam tentang fenomena yang telah terkonstruksi tersebut. Media menciptakan kesatuan pemahaman tersebut dan menimbulkan gerakan besar dalam dua kubu yaitu yang mendominasi dan yang terdominasi, antara yang mempengaruhi dan yang terpengaruhi, antara yang memprovokasi dan yang terprovokasi, antara yang berkuasa dengan yang dikuasi, bahkan antara gambaran ruang yang bersifat publik dengan yang bersifat domestik.

Media khususnya televisi telah menjadi media yang mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Keberadaanya mampu membentuk kebudayaan massa yang cepat dan penuh perubahan. Tanpa disadari pula, televisi yang merupakan bagian dari kebudayaan massa itu telah mematikan kebudayaan alternatif dan klasik.

Kebudayaan massa yang serba cepat memunculkan sejumlah ekspresi tentang nilai, pengetahuan, norma, dan simbol, menandai dinamika masyarakat kita. Televisi mempunyai efek samping yang tidak ringan. Ia mampu mengacaukan keharmonisan hubungan sosial karena ia adalah alat yang digunakan untuk mengembangkan strategi dalam melahirkan propaganda dalam hal politik, ekonomi, dan berbagai macam kepentingan lain.

Media telah berperan besar dalam membentuk identitas setiap khalayaknya. Identitas-identitas tesebut terbentuk dari materi sajian yang banyak mengandung konsumerisme dan kekerasan.

Idealnya media televisi menurut Gllasser (1984), televisi bisa merefleksikan struktur realitas sosial, menawarkan kesempatan dan akses yang sama kepada kelompok minoritas, memposisikan sebagai forum kepentingan masyarakat atau komunitas yang berbeda-beda, atau bahkan menjadi wahana untuk mengembangkan idiologi multikulturalisme bagi audience-nya.

Selanjutnya secara ideal harusnya media memberi pengakuan dan perlindungan terhadap keberagaman kebudayaan. Media harusnya sejalan dengan konsep mulitkulutral yang mengakui dan melindungi keragaman budaya serta menyetarakan derajat dari kebudayaan dan identitas yang berbeda-beda. Semangat mulitkultural yang berusaha untuk mengakui dan melindungi keragaman budaya pada dasarnya telah memberi kekebasan pada setiap budaya untuk bertahan dan berkembang. Semua budaya yang ada harus diberi kebebasan yang sama. Keberaan media harus mampu menjadi perekat sejumlah identitas (kepentingan) yang terpecah. Dan, hal itu sejalan dengan isu multikulturalisme yang dipandang dapat menjadi perekat baru integrasi bangsa.

Public Relation Promote Multicultural Perspectives

Keanekargaman budaya yang ada di Indonesia membutuhkan profesi PR yang mengerti bagaimana berkomunikasi secara multikultural. Keberadaan PR yang berwawasan multikultural ini untuk mendukung pemberdayaan masyarakat minoritas.

Sebagai sebuah profesi PR yang berwawasan multikultural mampu berperan membentuk pemahaman yang baik dalam menghadapi perbedaan sehingga terbentuk kesederajatan. Seorang PR yang baik harus mampu menyampaikan pesan yang jauh dari bias dan stereotip kultural.

Virginia Sheng menjelaskan beberapa komponen praktis multikultural dalam PR :

  1. Interdependence

Kegiatan PR harus memahami budaya yang melingkupi organisasi. Kedua hal tersebut juga harus dilihat sebagai komponen yang saling mempengaruhi.

  1. Cultural sensitivity

Kegiatan PR harus mampu memahami dimensi-dimensi budaya yang bisa mempengaruhi persepsi, perilaku, dan kebiasaan budaya organisasi.

  1. Value of diversity

Kegiatan PR harus memahami dan menghormati perbedaan perspektif dalam linngkungan budaya organisasi

  1. Symmetrical communication

Kegiatan PR harus mampu membuka komunikasi interaktif, dan saling mengerti antara organisasi dan masyarakat.

  1. Conflict resolution

Kegiatan PR harus mempromosikan dan mengelola hubungan baik antara organisasi dan budaya masyarakat lewat negosiasi dan kompromi sehingga mampu meredakan konflik.

Lebih lanjut Sheng menjelaskan juga karakteristik yang harus dimiliki praktisi PR dalam menghadapi masyarakat multikultural:

  • Praktisi PR harus sadar bahwa latarbelakangnya mempunyai potensi dalam membentuk persepsi dan tindakannya dalam menghadapi budaya yang berbeda.
  • Praktisi PR harus mempunyai kemampuan berkomunikasi dalam menghadapi perbedaan budaya
  • Mereka harus mempunyai kemampuan dalam memediasi dalam sebuah negosiasi antar budaya saat konflik terjadi
  • Mereka harus mengerti bahwa sensitifitas budaya bisa dipelajari melalui pengalaman, dan keikutsertaan dalam budaya tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: