Muhammad Irawan Saputra

Home » Uncategorized » Pengaruh Budaya pada Konteks: Ruang Lingkup Bisnis

Pengaruh Budaya pada Konteks: Ruang Lingkup Bisnis

Pembahasan tentang Budaya dalam Bisnis ini didasari dengan beberapa pemikiran. Pembahasaan ini mendasarkan pemikirannya bahwa Komunikasi berlangsung dengan berlatarkan berbagai konteks. Konteks yang melatarbelakangi komunikasi melahirkan sebuah peraturan. Peraturan inilah yang mengatur bagaimana sebuah proses komunikasi berjalan. Berbedanya budaya juga menyebabkan peraturan dalam berkomunikasi berbeda-beda.

Konteks-konteks yang berbeda dalam setiap budaya tersebut juga dipengaruhi beberapa dimensi dalam budaya. Pertama hal formal dan tidak formal. Dimensi ini berkenaan dengan kecenderungan gaya komunikasi yang formal dan tidak formal. Kedua, Ketegasan dan keharmonisan interpersonal. Dimensi ini menyinggung keadaan emosi komunikan  dalam menghadapi peristiwa dalam komunikasi. Dimensi ketiga adalah hubungan status. Dimensi ini berhubungan dengan strata dalam kelas sosial.

Dasar-dasar pemikiran dan dimensi-dimensi yang ditentukan tersebut dibawa dalam ruang lingkup bisnis internasional sebagai kategorisasi dan landasan pembahasan. Asumsi dalam tulisan ini memandang bahwa globalosasi bisnis yang terjadi di dunia bukan karena faktor dominasi tetapi lebih karena faktor ketergantungan diantara negara-negara.   

Ketrampilan dalam melaksanakan komunikasi bisnis multikultural diperlukan pemetaan dalam aktifitas bisnis. Pembahasan dalam bisnis multikultural ini akan membahas beberapa budaya bisnis seperti protokol bisnis, manajemen, negosiasi, dan manajemen konflik.

 

Protokol Bisnis

            Protokol bisnis ini melibatkan bentuk perayaan, etiket, dan kode perilaku yang benar. Beberapa variasi protokol bisnis perlu diperhatikan untuk mencapai tujuan komunikasi bisnis multikultural ini.  Variasi tersebut seperti hubungan awal, cara menyapa, penampilan pribadi, pemberian hadiah, dan topik percakapan yang tabu.

            Hubungan awal yang efektif dalam suatu bisnis berbeda-beda dalam setiap budaya. Budaya bisnis Amerika terbiasa dengan apa yang dinamakan cold call , yaitu membuka hubungan bisnis dengan menelepon calon pelanggan yang tidak dikenal. Cold call langsung kepada topik pembicaraan yaitu bisnis tanpa ada basa basi terlebih dahulu. Budaya ini sesuai dengan tipikal dasar orang Amerika yang tidak suka bertele-tele dan mengutamakan efisiensi. Berbeda dengan Afrika yang hubungan awal dalam suatu bisnis memerlukan perantara. Perantara ini dapat membukakan pintu, memastikan kunjungan diterima dengan hanngat, serta menilai prospek proposal yang akan diajukan.

            Variasi kedua yang perlu diperhatikan dalam protokol bisnis adalah cara menyapa. Cara menyapa yang berbeda-beda juga harus diperhatikan seperti apakah budaya yang akan dihadapi terbiasa dengan membungkukkan badan, berpelukan, berciuman pipi, tatapan mata, anggukan, ataupun sapaan yang biasa dilakukan. Selain perhatian terhadap kebiasaan berbisnis, suatu pemahaman juga harus diperhatikan seperti dengan kompleksnya tindakan membungkuk. Orang Jepang sadar hal itu susah dimengerti orang asing, sehingga mereka tidak mengharapkan orang asing untuk membungkuk.  

            Variasi berikutnya adalah penampilan diri.  Penampilan dalam berbisnis mempunyai caranya masing-masing dan mempunyai batas toleransi yang bermacam-macam dalam setiap budaya. Dalam hal penampilan ini, Amerika mempunyai budaya yang lebih informal dalam berbisnis.

            Variasi selanjutnya adalah mengenai pemberian hadiah. Urusan pemberian hadiah ini perlu mendapat perhatian dalam berbisnis lintas budaya. Pemberian hadiah yang tidak memperhatikan kebiasaan dan peraturan  yang berlaku bisa menjadi masalah yang sangat serius dalam berbisnis. Budaya tertentu seperti Amerika Serikat mengharamkan segala bentuk hadiah dalam berbisnis, karena hal tersebut diartikan sebagai penyuapan. Budaya yang lain seperti Timur Tengah menganggapnya sebagai hal yang sangat penting dalam berbisnis. Selain pandangan tentang apa itu hadiah, perlu diperhatikan juga peraturan yang berlaku, waktu pemberian, bentuk hadiah, dan cara memberikan.

            Variasi terakhir yang harus diperhatikan adalah topik-topik pembicaraan apa saja yang dianggap tabu. Pemillihan topik pembicaraan harus mengikuti peraturan budaya. Aturan ini menuntun dalam mempelajari topik apa yang dapat diterima dalam budaya relasi bisnis yang dihadapi. Topik basa-basi yang paling populer adalah masalah cuaca atau komentar seputar lingkungan fisik sekitar, seperti pengaturan ruangan rapat atau beberapa aspek dari suatu bangunan. Sebuah topik yang tabu membuat proses bisnis menjadi sangat terganggu. Pebisnis Chili, Argentina dan Venezuela menganggap topik politik menjadi hal tabu dalam perbincangan bisnis. Pebisnis Amerika menganggap perbincangan tentang keluarga adalah suatu hal lumrah dalam bisnis, namun tidak begiitu dengan Arab Saudi yang menganggap hal tersebut sebagi tabu.

Manajemen Antarbudaya

Pola manajemen antar budaya memiliki perbedaan yang perlu diperhatikan setiap pebisnis. Menurut Early dan Ang terdapat dua hal yang harus diperhatikan dalam melihat perbedaan manajemen di tiap budaya. Pertama Kepemimpinan manajerial, dan bagaimana manajer menghadapi proses pengambilan keputusan.

            Gaya kepemimpinan di Amerika Serikat sangat menghargai prestasi, inisiatif pribadi, tindakan serta akibat, dan berusaha mengurangi perbedaan status. Sementara gaya kepemimpinan di Jepang lebih mengutamakan kebersamaan dan terdapat pembedaan yang jelas antara senior dan junior. 

            Gaya pengambilan keputusan juga menjadi hal yang sangat perlu diperhatikan. Untuk efektifitas komunikasi, seorang manajer internasional harus menyadari siapa yang membuat keputusan, dan bagaimana keputusan tersebut diambil. Bagaimana tipe pengambilan keputusan apakah itu model top to down ataukah Down to top yang diterapkan dalam budaya organisasi.

 

Negosiasi

Negosiasi ini melibatkan perwakilan dari organisasi yang berbeda bekerja untuk mencapai keputusan yang saling menguntungkan. Di waktu yang sama, dalam negosiasi berusaha mengurangi perbedaan, kesalahpahaman dan konflik.

            Budaya memiliki kepribadian yang sangat berbeda ketika terlibat dalam negosiasi antarbudaya. Ada perbedaan yang menyangkut sifat langsung dan tidak langsung dalam berbicara, pandangan terhadap usia, sifat formal ataukah informal, ritme kerja lambat ataukah cepat, cenderung aserrtif ataukah harmonis, dan model kolektif ataukah individual.

Hal-hal yang harus diperhatikan untuk mencapai negosiasi yang efektif adalah pemilihan negosiator, Etika bisnis dan negosiasi, Formalitas dan status, kecepatan dan kesabaran dalam bernegosiasi, ekspresi emosi, bahasa langsung dan tidak langsung, pemahaman tentang bukti dan kebenaran.

            Pemilihan negosiator merupakan hal yang sangat penting dalam berbisnis. Tiap budaya mempunyai berbagai macam pandangan tentang negosiator. Pemilihan negosiator ini setidaknya harus memperhatikan status dari negosiator, jumlah anggota para negosiator, gender, dan usia. Hal-hal itu sering menjadi pertimbangan penting tergantung budaya apa yang dihadapi para negosiator.

            Perhatian tentang formalitas dan status juga menjadi perhatian yang penting. Gelar dan status bisa menjadi hal yang sangat penting di budaya tertentu dan menjadi hal yang tidak penting di budaya seperti Amerika. Selain itu bagaimana pandangan dan cara suatu budaya melihat perayaan juga terdaapat perbedaan satu sama lain.  

            Kecepatan dalam bernegosiasi mempunyai variasi di satu budaya dengan budaya yang lain. Ada budaya yang cenderung to the point seperti Amerika Serikat tetapi ada juga yang lebih bersifat sabar dan membutuhkan waktu lama seperti kkebanyakan bangsa timur.

            Ekspresi emosi masing-masing budaya bisa jadi sangat bertolak belakang. Budaya Amerika sangat memberikan kebebasan dalam berekspresi tidak seperti kebanyakan bangsa Timur. Pengecualian terjadi di Meksiko dan Timur Tengah, pernyataan emosi diharapkan dan menganggap sebagai cara untuk menekankan dan memperkuat posisi negosiasi.

            Penggunaan bahasa langsung dan tdak langsung juga penting diperhatikan. Budaya Jepang dan sebagian besar budaya Timur mengatakan tidak dengan cara kiasan atau tidak langsung untuk menjaga keharmonisan sebuah proses komunikasi. Sebaliknya Amerika Serikat lebih cenderung mengatakan ya dan tidak dengan sangat langsung tanpa berbelit-belit dan tanpa kiasan.

            Pemahaman akan bukti dan kebenaran dalam setiap budaya bisa sangat berbeda. Banyak orang Amerika yang cenderung bergantung kepada observasi objektif untuk menyatakan fakta. Sedangkan di Amerika Latin, keputusan didasarkan kepada data subjektif, dan didukung oleh perasaan subjektif. Berbeda lagi dengan Korea dan China, mereka memakai sumber informasi subjektif dari pemerintah.

Pengembangan Kemampuan Negosiasi Antarbudaya

Untuk mempertajama kemampuan komunikasi beberapa tips dijabarkan berikut ini:

  1. Bersiaplah, Pelajari semua hal yang bisa dipelajari mengenai budaya yang akan dihadapi seperti formalitas, status, tindakan non-verbal, penggunaan bahasa, dan lain sebagainya.
  2. Kembangkan sensitifitas terhadap penggunaan waktu, Belajarlah beradaptasi untuk budaya yang memakai negosiasi lambat bila kita berasal dari budaya dominan Amerika dan menghadapi tipe negosiasi lambat, begitupun sebalinya.
  3. Dengarkan dengan seksama, Bagian dari konsentrasi adalah dengan belajar untuk tetap nyaman terhadap keheningan dan menyadari bahwa sikap diam juga merupakan bentuk komunikasi.
  4. Belajar untuk menoleransi ambiguitas. Sikap toleran ini akan berguna untuk mengetahui apa yang baru dan kadang sulit untuk dikenali.
  5. Cobalah untuk menempatkan persetujuan. Karena kedua belah pihak dalam negosiasi ingin memperoleh sesuatu, maka merupakan hal yang sederhana untuk memisahkan area persetujuan. Jika kedua belah pihak dapat melihat area ini, semua akan memperoleh keuntungan.

 

Manajemen Konflik Antarbudaya

            Konflik dalam perspektif Amerika berbeda dengan budaya lain. Konflik dalam budaya bisnis Amerika banyak timbul karena lima area pertentangan menurut Beamer dan Varner.  Area tersebut diantaranya, Ketidaksetujuan terhadap tugas(apa), ketidaksetujuan terhadap proses(bagaimaan), ketidaksetujuan terhadap alokasi sumber (dengan apa), ketidaksetujuan terhadap tujuan(mengapa), ketidaksetujuan terhadap kekuasaan(bagaimana).

Beberapa cara mengatasi konflik diantaranya menghindar. Menghindar dikenal sebagai penyangkalan atau penarikan diri, merupakan strategi yang berdasarkan asumsi bahwa konflik akan hilang jika diacuhkan. Cara mengatasi konflik yang lain adalah dengan akomodasi. Cara ini hampir sama dengan menghindar, namun dalam akomodasi seseorang berusaha menyenangkan orang lain. Menurut Schmidt dan rekannya, “Orang yang berusaha mencari koneksi, memiliki kebutuhan afiliasi, dan peduli mengenai hubungan kadang lebih menyukai pendekatan akomodasi terhadap konflik.” Cara berikutnya yang biasanya dilakukan untuk menyelesaikan konflik dalam perspektif Amerika adalah kompetisi. Kompetisi secara terbuka dianjurkan dalam budaya individualistis seperti di Amerika. Petugas penjualan ditantang untuk saling mengalahkan, misalnya Sales of The Year dipilih dalam banyak perusahaan. Cara terakhir yang dibahas dalam kesempatan ini adalah kolaborasi. Kolaborasi ini merupakan usaha dimaana semua pihak bekerja sama untuk memecahkan masalah. Metode ini merupakan cara yang paling banyak digunakan untuk mengatasi konflik, karena konflik dilihat dari sisi yang positif.

Semua penjelasan tentang konflik tersebut adalah menurut perspektif Amerika Serikat. Menurut perspektif Internasional konflik merupakan bagian dari setiap aspek konteks bisnis. Setiap budaya mempunyai mempunyai cara yang berbeda dalam melihat dan menghadapi konflik. Di Timur Tengah, orang melihat konflik sebagai cara hidup yang alami. Sementara Yahudi menghargai pertentangan dan konflik dengan kalimat “Di mana ada dua orang Yahudi maka ada tiga pemikiran yang muncul.” Sebaliknya dengan orang Jepang, mereka menganggap konflik sebagai hal yang memalukan dan membingungkan, karena berpotensi mengacaukan keharmonisan sosial. Pandangan orang Jepang ini juga menyerupai dengan apa yang terjadi di China.

Sebuah konflik bila intensitasnya terlalu bannyak tentu akan sangaat menghambat kinerja. Untuk menghindari terlalu banyaknya konflik yang kemungkinan akan terjadi, beberapa cara ini bisa digunakan. Prominal kolektif adalah cara yang bagus untuk menghindari terjadinya konflik. Penggunaan kata “kita” dan “punya kita” memusatkan pembicaraan pada setiap orang dibandingkan pada satu orang, seperti dengan kata “Aku”, “saya”, dan “Anda”. Cara berikutnya adalah ulangi komentar orang lain seobjektif mungkin. Cara tersebut memudahan dalam menentukan apakah kita mendengarkan apa yang lawan bicara maksudkan. Cara berikutnya adalah menyatakan sebanyak  mungkin poin persetujuan. Kadang persetujuan dapat lebih banyak dari perbedaan, sehingga konflikpun dapat dihindari.

Beberapa hal tersebut dapat mencegah terjadinya konflik, namun bila konflik terlanjur terjadi beberapa tahap ini adalah tahap-tahap penyelesainnya. Tahap penyelesaian tersebut diantaranya, mengidentifikasi isu yang mengakibatkan masalah. Sebuah permasalahan penting untuk dicari inti permasalahannya bukan pada individu-individunya. Tahap berikutnya adalah tetap menjaga pikiran untuk tetap terbuka. Roy dan Aludaja menasihatkan,”Dekati konflik dengan keterbukaan. Kenali bahwa ada banyak hal yang per;u dipelajari melalui peserta yang lain sebagai orang dan cara pandang mengenai posisi mereka.” Tahap selanjutnya adalah jangan terburu-buru. Menghadapi budaya kolektif Ting-Toomey menyarankan “Sensitiflah terhadap pentingnya pengamatan yang tenang dan hati-hati. Gunakanlah keheningan, berhentilah sejenak, dan tunggulah giliran anda berbicara dengan sabar.” Tahap berikutnya adalah menjaga konflik agar berpusat pada ide bukan pada orangnya. Terlepas dari budayanya, tidak ada yang suka diancam atau ditempatkan dalam posisi yang tidak mengenakkan. Dengan demikian penting untuk memisahkan suatu masalah dari seseorang.


1 Comment

  1. Artikelnya bagusss…
    Sekedar ingin berbagi aja, barangkali bisa menambah sedikit referensi mengenai Pengaruh Lingkungan Terhadap Perusahaan (General Business Environment)
    Klik –> Analisis Lingkungan Budaya Terhadap KFC di Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: