Muhammad Irawan Saputra

Home » Uncategorized » Multikulturalisme

Multikulturalisme

Multikuluralisme merujuk pada keragaman budaya. Keragaman ini berupa SARA (Suku, Agama, ras, dan Antar golongan) dan yang lebih kompleks seperti keragaman komunal, gender, orientasi seksual, dan lain-lain. Multikulturalisme memberi tempat pada hak-hak komunal.

Bikkhu Parekh menyebutkan bahwa keragaman yang dirujuk oleh multikulturalisme adalah meliputi subcultural diversity (seperti transgender, anak-anak jalanan, orang tua tunggal, gay, lesbian, dll), perspectival diversity (seperti perspektif feminisme) dan communal diversity (indigenous people, imigran, kepercayaan komunitas, dll). Konsep multikulturalisme ada untuk mengelola keragaman budaya. Pengakuan terhadap kelompok yang terpinggirkan juga menjadi fokus dari konsep ini.

 

http://lkis.or.id/v2/berita-182-belajar-bersama-pengantar-multikulturalisme.html

 

Pluralisme

Pluralisme cenderung hanya mengarah ke SARA dan menekankan pada hak-hak individu. Sebuah penggalan tulisan dari JIL (Jaringan Islam Liberal), sebuah lembaga yang gencar mengkampanyekan pluralisme.

“Karena itu diperlukan pluralisme. Diperlukan sikap toleran, keterbukaan, dan kesetaraan antara kita semua yang menyertai perbedaan. Tak ada dari kita yang sempurna. Tak ada yang lebih tinggi. Pluralisme menempatkan diri dan kelompok sebagai entitas kurang yang membutuhkan diri dan kelompok lain. Ini merupakan dorongan kemungkinan yang jauh lebih kuat dalam menciptakan kerukunan masyarakat.”

            Tulisan ini disambung dengan pandangan penggiat pluralisme ini dengan menghubungkan fatwa MUI tentang haramnya pluralisme dengan film “?” karya Hanung Bramantyo. Berikut ini penggalan tulisannya:

Bila pluralitas masyarakat mengikuti pemahaman MUI, skenario “?” bisa kita rubah. Rika akan terus menderita dengan keyakinan Islam yang merestui suaminya berpoligami. Selamanya Surya menjadi aktor figuran melarat tak bermanfaat, karena agamanya melarang membantu pelaksanaan ibadah pemeluk agama lain. Menuk tak akan bekerja di “Canton Chinese Food”, hingga ia harus mencari lagi pekerjaan sana-sini untuk mempertahankan keluarganya sehingga tak ada dialog intim Islam-Kong Hu Cu di restoran itu. Tan Kut San tak akan memahami Islam, sehingga tak ada pelayanan makanan halal bagi muslim, dan penghormatan bulan Ramadan serta Idul Fitri. Selamanya Soleh dan Ping Hen terjebak pada streotipe patriarki Islam dan Tionghoa, bahwa laki-laki adalah pemimpin dan harus kuat, lalu menindas etnis dan pemeluk agama yang berbeda.

            Dari beberapa tulisan tentang pluralisme tersebut dapat saya simpulkan bahwa konsep pluralisme memandang setiap orang punya identitas budaya. Identitas budaya tersebut hanya ada dalam diri masing-masing individu. Identitas tersebut bila berinteraksi dengan identitas lain haruslah menjadi netral. Itulah keadaan ideal dalam pluralisme. Sebuah identitas bisa ditawar dan bisa dilebur untuk mengantisipasi perbedaan identitas yang mengganggu individu lain.

 

Why Multiculturalism differs with pluralism?

Perbedaan terjadi diantara keduanya terutama saat identitas dari tiap indvidu atau budaya bertemu. Multikulturalisme berpendapat ketika pertemuan dua budaya sebuah suasana multikulturalisme mampu mempertahankan keaslian dari dua budaya tersebut. tanpa harus melakukan kompromi yang mengaburkan identitas satu sama lain. Multikulturalisme menekankan keaslian identitas harus dipertahankan dalam sebuah kebersamaan. Yang dituntut dalam multikulturalisme adalah pemahaman akan kesederajatan dalam kebersamaan walaupun tiap kelompok memiliki identitas yang dipegang teguh keasliannya.

Pluralisme menekankan pada kompromi tanpa batas sampai kepada pengaburan identitas untuk menciptakan kebersamaan. Sebuah keaslian identitas tidak dihormati dalam hal ini.  

 

mengapa multikultur penting?

Gagasan multikultur penting untuk menjaga keaslian dari tiap-tiap identitas budaya. Sebuah keaslian yang terjaga dari identitas berbagai budaya tersebut akhirnya mampu menjadikan keragaman dalam kebersamaan. Sebuah keragaman sangat diperlukan untuk pembeda dalam kebersamaan. Pembeda tersebut mampu menimbulkan sebuah kepercayaan diri dalam setiap individu ataupun kelompok dalam kebersamaan. Sebuah kepercayaan diri mampu mendorong tiap individu atau kelompok untuk berkarya sesuai dengan identitas dan kemampuanya tana harus takut untuk dibatasi.

 

Situasi multikultur Indonesia? Apakah ada masyarakat multikultural?

Indonesia memiliki situasi multikultur yang bagus dalam sistem kebudayaan, namun dalam sistem pemerintahan situasi ini membaik setelah runtuhnya Orde Baru. Budaya masyarakat Indonesia menggambarkan semangat multikulturalisme dalam kesehariannya. Saling menghormati antar agama dan ritual ibadahnya, saling menghormati antar etnis dan ritual kebudayaannya sebenarnya sudah tertanam sejak lama.

Keberadaan negara yang mengusung gagasan pluralisme lah yang sebenarnya yang menghambat hal tersebut. Program – program nasional yang berlandaskan pluralisme telah banyak tersistem sejak Orde Baru. Program-program perumahan rakyat yang tidak memandang kebiasaan berumah tangga dari masing-masing budaya.

Semangat multikulturalisme tumbuh dengan baik setelah reformasi bergulir. Gagasan pluralisme dipertanyakan karena telah gagal mengawal kekayaan budaya Indonesia. Semangat di dunia politik  tercermin dalam gagasan otonomi daerah. Peraturan dan pengelolaan SDM dan SDA daerah telah dilimpahkan kewenangannya kepada masyarakat daerah tidak sepenuhnya pusat lagi. Kebijakan daerah yang diharapkan lebih peka akan situasi sekitarnya diharapkan mampu membentuk SDM dan SDA Indonesia yang diharapkan. Pertelevisian juga merasakan imbas dari semangat multikulturalisme. Gagasan penghapusan televisi nasional menjadi televisi lokal berjaringan diharapkan mampu melestarikan budaya-budaya lokal bukan hanya tontonan budaya Jakarta ataupun Amerika.  

Tanggapan Kritik Terhadap Multikulturalisme

Waldron menyatakan masyarakat sekarang membutuhkan budaya material bukan sebuah paham struktur tentang budaya yang spesifik/unik. Memang masyarakat dunia saat ini sedang mengalami globalisasi, namun dimasa seperti inilah identitas diperlukan. Apabila sebuah kelompok masyarakat tidak memiliki identitas budaya dalam globalisasi, ia akan terbenam dalam identitas lain yang lebih kuat dan khas. Keadaan tersebut terjadi karena memang globalisasi menuntut pertempuran identitas. Globalisasi berakibat siapa yang kalah dalam pertempuran akan terlupakan dan menjadi pengikut identitas pemenang. Sementara pemenang mempunyai kekuatan menentukan apa yang dipikirkan oleh yang kalah.

Kritik berikutnya terhadap multikulturalisme adalah sulitnya mengakomodasi sebuah perbedaan dalam kebersamaan. Tentunya hal ini tidak bisa langsung dilihat hitam dan putih bahwa sebuah multikulturalisme akan menyumbat akomodasi. Justru lewat pemahaman akan kesederatan perbedaan sebuah akomodasi yang tepat akan tercipta. Sebuah akomodasi yang memperhatikan perbedaan tiap unsur akan membawa sinergi yang kuat karena salah satu unsur tidak merasa dikorbankan, unsur lainpun tidak merasa menontrol lainnya.

Tentunya dalam sebuah momen tertentu sebuah kebersamaan membutuhkan akomodasi yang memaksa unsur-unsur didalamnya mengorbankan beberapa identitasnya untuk diselaraskan. Penyelarasan ini tentu perlu memperhatikan apakah hal tersebut inti dari identitas atau tidak. Tentu hal yang diselaraskan harulah hal yang memang bisa dikompromi, bukannya sebuah jati diri yang memang sakral. Namun harus hati-hati sebuah penyelarasan dan pengorbanan unsur0unsur identitas yang tidak memperhatikan kesakralan dan keterdesakan akan menjelma menjadi sebuah bom waktu dimasa yang akan datang.

Kritik lain mengatakan multikulturalisme lebih fokus kepada budaya dan identitas, maka akan mengalihkan perhatian terhadap pemerataan ekonomi. Sebenarnya istilah pemerataan ekonomi adalah sebuah pandangan sepihak dari kaum materialis. Belum tentu standar kebahagiaan yang dimiliki kaum materialis sama dengan standar kebahagiaan yang dimiliki suatu budaya yang lain. Budaya lain bisa saja menjadikan standar kebahagiaannya adalah hubungan dan interkasi sosial bukan materi seperti sudut pandang kaum materialis. Sebuah sudut pandang akan kebahagiaan kaum materialis yang dipaksakan kepada suatu budaya yang lain tentunya akan menjadi sebuah penjajahan pemikiran bukan menjadi pengembangan kesejahteraan lagi.

            Kritik berikutnya menyebutkan, pemerhatian tiap kelompok minoritas akan terlalu menghabiskan tenaga. Kelompok mayoritas yang mempunyai kebutuhan lebih besar dan penting akan terbengkalai. Menurut saya sebuah pemerataan perhatian perlu memperhatikan porsi dan kepentinganya. Sebuah perhatian akan kuantitas pangan tentu tidak bisa disamakan antara kelompok mayoritas dan minoritas. Sebuah porsi tentu menyesuaikan konteksnya sehingga tentu tidak terdapat patokan pasti bagaimana perhatian minoritas diberikan, Namun, semangat untuk tidak mendiskriminasikan minoritaslah yang penting sehingga akan tercermin dalam setiap kebijakan.

            Multikulturalisme juga dikritik sebagai penyebab perpecahan antar budaya. Penghormatan yang sesuai antar identitas budaya yang berlainan tentu akan sangat mendukung persatuan dalam satu negara. Kesesuaian penghormatan antar budaya tentu memiliki ukuran dan bentuk tersendiri dalam tiap konteksnya. Perlu ada perhatian khusus untuk menemukan cara bagaimana budaya – budaya yang ada mampu menghormati perbedaan satu sama lain.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: