Muhammad Irawan Saputra

Home » Uncategorized » Manajemen Citra Publik

Manajemen Citra Publik

a. Pengertian Manajemen dan Citra

Manajemen

Dr. SP. Siagian:

“Management adalah kemampuan atau keterampilan untuk memperoleh suatu hasil dalam rangka pencapaian tujuan melalui oranglain.

Prof. Dr. H. Arifin Abdulrachman:

Management adalah:

·        kegiatan-kegiatan/aktivitas-aktivitas,

·        proses, yakni kegiatan dalam rentetan urutan-urutan,

·        insitut/orang-orang yang melakukan kegiatan atau proses kegiatan.

Ordway Tead yang disadur oleh Drs. HE. Rosyidi:

“manajemen proses dan kegiatan pelaksanaan usaha memimpin dan menunjukkan arah penyelenggaraan tugas suatu organisasi di dalam mewujudkan tujuan yang telah ditetapkan.”

Marry Parker Follet:

“manajemen adalah sebagai seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui oranglain.”

James A.F. Stonner:

“manajemen adalah proses perencanaan, pengorganisasian, pengarahan dan pengawasan usaha-usaha para anggota organisasi dan penggunaan sumber-sumber daya organisasi lainnya agar mencapai tujuan organisasi yang ditetapkan.”

Drs. Oey Liang Lee:

“manajemen adalah seni dan ilmu perencanaan pengorganisasian, penyusunan, pengarahan dan pengawasan daripada sumberdaya manusia untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.”

R. Terry:

“Manajemen merupakan suatu proses khas yang terdiri dari tindakan-tindakan perencanaan, pengorganisasian, penggerakan dan pengendalian yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran yang telah ditentukan melalui pemanfaatan sumberdaya manusia dan sumberdaya lainnya.

Lawrence A. Appley:

“Manajemen adalah seni pencapaian tujuan yang dilakukan melalui usaha orang lain.”

Horold Koontz dan Cyril O’donnel:

“manajemen adalah usaha untuk mencapai suatu tujuan tertentu melalui kegiatan orang lain.

 

Jadi dapat dikatakan manajemen adalah aktivitas atau kegiatan mengelola sesuatu secara efisien dan efektif, guna meraih suatu tujuan yang dikehendaki. Sesuatu yang dimaksud bisa “personal” atau “organisasi”. Dalam menjalankan kegiatan pengelolaan perlu menerapkan kaidah-kaidah tertentu, yang lazim disebut dengan fungsi-fungsi manajemen, yang mencakup planning (perencanaan), organizing (pengorganisasian), leading (kepemimpinan) dan controlling (pengendalian).

 

 

Citra

Philip Kotler (1997:259):

” Citra adalah seperangkat keyakinan, ide, kesan yang dimiliki seseorang terhadap suatu obyek” . Sedangkan menurut

Sutisna (2001:83):

“Citra adalah total persepsi terhadap suatu obyek yang dibentuk dengan memproses informasi dari berbagai sumber setiap waktu.

Buchari Alma (2002:317):

 “Kesan yang diperoleh sesuai dengan pengetahuan dan pengalaman seseorang tentang sesuatu” .

Rhenald Kasali (2003:28):

“mendefinisikan citra sebagai “Kesan yang timbul karena pemahaman akan suatu kenyataan”

Bill Canton:

”Citra adalah kesan, perasaan, gambaran dari publik terhadap perusahaan atau organisasi; kesan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu objek, orang, atau organisasi”

Katz:

” Citra adalah cara bagaimana pihak ain memandang sebah perusahaan, seseorang, suatu komite atau suatu aktivitas”.

Jalaluddin Rahmat:

 “citra adalah gambaran subjektif mengenai realitas, yang dapat membantu seseorang dalam menyesuaikan diri dengan realitas kongkret dalam pengalaman seseorang”

Ruslan (2006):

menyatakan citra itu sendiri abstrak (intangible) dan tidak dapat diukur secara matematis, tetapi wujudnya bisa dirasakan dari hasil penilaian baik atau buruk. Seperti penerimaan tanggapan baik positif maupun negatif yang khususnya datang dari publik sasaran dan masyarakat luas pada umumnya.

Petter (Wijatno, 2009):

 “A strong image is the sum of name recognition and reputation, the result of professional and kreative efforts and of proffesional communications with all the target groups important to the organization.

Gronroos (Wijatno, 2009):

“citra sebagai representasi berbagai penilaian dari konsumen, baik konsumen potensial maupun konsumen yang kecewa, termasuk kelompok-kelompok lain yang berkaitan dengan perusahaan, seperti pemasok, agen, maupun investor.”

Prayudi, (2008):

“citra adalah penilaian terhadap perusahaan dilihat dari kaca mata perusahaan”

 

Jadi bisa disimpulkan citra adalah semua kesan yang diperoleh dari simbol atau pesan yang dibentuk dan disebarkan secara konsisten oleh perusahaan/organisasi baik itu dengan cara melihat nama, mengamati perilaku atau membaca suatu aktivitas atau melihat bukti material lainnya.

 

b. Manajemen citra Perusahaan

 “Citra” dan “Manajemen” seperti yang telah diterangkan sebelumnya merupakan dua istilah yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Manajemen Citra Perusahaan adalah usaha perusahaan atau organisasi untuk mengelola persepsi/gambaran (perception management) yang hendak dibangun (dijual) atau yang akan diberikan kepada publik internal  eksternal”.

Usaha ini berupa menggerakkan dan mengendalikan suatu usaha kerja sama dengan memanfaatkan sumberdaya yang ada untuk mencapai tujuan organisasi yang telah ditetapkan yaitu berupa kesan, perasaan, gambaran dari publik terhadap perusahaan yang dengan sengaja diciptakan dari suatu objek, orang atau organisasi yang telah ditentukan.

 

c. Pencitraan dan Reputasi

Menurut pendapat saya sebuah reputasi didapatkan setelah usaha pencitraan dilakukan selama bertahun-tahun. Sehingga saya berpendapat proses pencitraan dilakukan dahulu sebelum mendapatkan reputasi. Pernyataan ini diperkuat Basya dalam Basya dan Sati (2006:6), ”Reputasi adalah suatu nilai yang diberikan kepada individu, institusi atau negara. Reputasi tidak bisa diperoleh dalam waktu singkat karena harus dibangun bertahun-tahun untuk menghasilkan sesuatu yang bisa dinilai oleh publik. Reputasi juga baru bertahan dan sustainable apabila konsistennya perkataan dan perbuatan”. Kemudian Charles J. Fombrun (1996) juga menambahkan bahwa reputasi didapatkan setelah dua hal penting dibentuk, yaitu identitas organisasi dan citra organisasi.

 

5.Strategi Pembentukan Citra

Terdapat beberapa strategi berbeda dalam menghadapi situasi yang berbeda-beda juga. Berikut ini strategi-strategi yang disesuaikan dengan keadaan citra perusahaan.

  1. Membentuk Citra Baru

Pembentukan citra baru ini relatif lebih mudah dilakukan oleh produk-produk baru yang  sebelumnya tidak dikenal masyarakat. Usaha ini akan lebih mudah lagi kalau produk baru tersebut tidak mempunyai pesaing. Pembentukan citra yang dibahasa ini hanya akan sebatas menciptakan aktivitas komunikasi secara teratur, berkesinambungan, dan menggandakan pemakaian saluran komunikasi yang digunakan.

            Usaha yang dibutuhkan dalam membentuk citra baru sebuah perusahaan yang belum banyak diketahui publik bisa dilakukan dengan melakukan publikasi melalui selebaran atau brosur, iklan radio, televisi dan lewat media online.

            Kemudian upaya yang bisa dilakukan selanjutnya dalam membangun citra baru adalah bekerjasama dengan tokoh-tokoh masyarakat yang berpengaruh. Keudian aktivitas bersama dengan lembaga lain juga dibutuhkan dalam membangun reputasi baru ini. Usaha ini bermaksud untuk menciptakan kesan seolah-olah ada kesejajaran dengan lembaga atau organisasi tersebut.

 2. Mempertahankan Citra Yang Sudah Terbangun

Usaha mempertahankan ini lebih sulit daripada membangun citra seperti yang dijelaskan sebelumnya. Keadaan citra yang sudah terbangun biasanya akan mengundang pesaing berkompetisi dan menimbulkan berbagai tantangan. Mempertahankan citra yang sudah terbentuk dengan pola kerja yang sama terkadang menimbulkan menurunnya citra. Pola kerja yang monoton cenderung tidak peka terhadap kemauan pelanggan yang selalu meminta peningkatan pelayanan. Tantangan yang besar tersebut bila dijawab dengan perubahan mendasar pada strategi komunikasi akan membutuhkan dana yang besar. 

 3. Memperbaiki Citra Yang terpuruk

Citra yang terpuruk diakibatkan oleh opini publik yang buruk karena ketidakpercayaan publik terhadap perusahaan. Perusahaan menghadapi keadaan ini harus tenang dan terencana dalam setiap tindakannya. Ketika citra perusahaan atau instansi terpuruk, sebuah pembelaan yang dilakukan tidak akan berpengaruh secara signifikan. Hal ini disebabkan karena ketidakpercayaan publik tidak bisa seketika dirubah menjadi sebuah opini positif.  

      Perusahaan dalam hal ini harus menerapkan langkah-langkah strategis. Pertama, perusahaan memilah posisi individu dalam dua kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok internal (members group) dan kelompok kedua adalah kelompok lain tetapi sering menjadi panutan (reference group). Reference group ini merupakan kelompok yang lebih dipercaya, sehingga perusahaan bisa meminta mereka untuk berbicara untuk memperbaiki citra.   

Langkah strategis kedua adalah membuat kegiatan-kegiatan yang bersifat “kemanusiaan” (humanities), seperti bakti sosial, program penghijauan, ataupun program santunan terhadap anak yatim.

Beberapa strategi dijelaskan sebuah teori yang dinamakan Image Restoration Theory Response Strategies. Teori ini menjabarkan bentuk-bentuk strategi yang bisa dipilih ketika seorang PR harus memberikan pernyataan atas terpuruknya citra karena sesuatu sebab. Berikut ini beberapa strategi tersebut. Pertama, Denial yatu menyangkal atau menggeser kesalahan kepada pihak lain. Strategi Kedua adalah Evasion of Responsibility yaitu menyatakan bahwa perusahaan terprovokasi sehingga melakukan hal buruk, atau termasuk dalam kategori ini juga adalah menyatakan ketidak-tahuan akan informasi yang cukup sehingga timbul masalah. Pernyataan bahwa yang terjadi adalah kecelakaan atau bisa juga menyatakan bahwa niat perusahaan baik namun apa yang terjadi sebaliknya.

Ketiga adalah Pernyataan-pernyataan Reducing the Offensiveness. Yang termasuk dalam bagian ini adalah Bolstering yaitu memberikan pernyataan bahwa perusahaan telah melakukan segalanya dengan baik. Kemudian bisa juga menggunakan pernyataan Minimasi yaitu mengatakan bahwa semua ini terjadi karena krisis yang sedang terjadi. Diferensiasi juga termasuk dalam bagian ini, yaitu dengan mengungkapkan bahwa perusahaan mengalami hal yang lebih buruk dari kami. Berikutnya adalah Transedensi atau mengalihkan perhatian dengan mengatakan kita harus fokus pada isu-isu lain yang lebiih penting. Kemudian ada juga pernyataan pada bagian ini yaitu dengan menyerang balik penuduh misal dengan mengatakan penuduh tidak bertanggung jawab. Menyatakan Kompensasi juga bisa dilakukan dengan mengatakan perusahaan sanggup menanggung apa yang sedang terjadi.

Keempat, adalah Corrective Action yaitu pernyataan yang lebih bertanggung jawab dengan mengatakan bahwa perusahaan akan menyelesaikan masalah yang terjadi. Kelima adalah Mortification yaitu pernyataan yang paling bertanggung jawab dengan meminta maaf terhadap apa yang telah tejadi.

4. Menguatkan Citra Ketika Pesaing Lebih Kuat

Sebuah citra perusahaan bisa juga mengalami penurunan karena ada pesaing yang mempunyai citra lebih kuat. Situasi ini bila tidak segera diatasi dengan strategi yang benar bisa merugikan perusahaan. Menurunnya penjualan sebuah perusahaan bisa juga diakibatkan oleh faktor ini. Sebuah tindakan perusahaan menyikapi hal ini yang dilakukan dengan emosional justru akan semakin merusak citranya. Persaingan yang tidak sehat dan emosional seperti pemboikotan produk pesaing justru akan merusak citra perusahaan yang bersangkutan.

Masyarakat yang mengetahui persaingan seperti ini tentu akan menilai buruk perusahaan yang melakukan kecurangan. Sebuah tindakan yang lebih produktif dan sehat tentu akan lebih direspon positif oleh masyarakat. Tindakan produktif bisa dilakukan dengan menyediakan fasilitas yang belum disediakan oleh pesaing yang lebih kuat. Tentu tindakan inovasi tersebut harus melihat kemampuan perusahaan. Perusahaan akan lebih baik mengikuti trend yang diciptakan produk dengan citra terkuat bila ia belum mampu mengusahakan inovasi. Tindakan ini paling tidak menjadikan produk perusahaan sebagai alternatif pilihan publik bila produk dengan citra terkuat tidak mampu didapatkan oleh konsumen. Perlu diingat juga strategi mengekor ini juga tidak bisa terus dijalankan, karena bila peluang dan kemampuan tersedia untuk berinovasi maka perusahaan harus mengusahakan untuk merebut level pertama dalam citra yang terbentuk dalam benak publik.   

Tindakan selanjutnya yang diambil adalah menentukan segmentasi khalayak yang spesifik sesuai dengan kemampuan pelayanan perusahaan. Memfokuskan segmentasi khalayak ini akan mengarahkan pelayanan perusahaan lebih spesifik dan fokus dalam memuaskan konsumen.

 6. Mempertahankan Atau Menguatkan Citra Ketika Sedang di Puncak

Sebuah citra yang sedang berada puncak harus terus dipertahankan. Sebuah tindakan mengurangi usaha pencitraan ketika citra sedang berada diatas akan berakibat menurunnya citra yang sudah terbentuk.

Usaha yang dilakukan untuk mempertahankan dan menguatkan citra pada situasi ini adalah dengan mengarahkan seluruh informasi agar konsumen mengetahui dengan baik produk-produk dari perusahaan. Usaha ini dimaksudkan agar konsumen memutuskan membeli produk perusahaan dengan kesadaran yang mendalam.

Selain itu kegiatan penelitian-penelitian juga harus terus dilakukan. Penelitian tentang faktor-faktor apa saja yang mampu membentuk citra perlu terus dilakukan.

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: