Muhammad Irawan Saputra

Home » Uncategorized » Cross Cultural Theories

Cross Cultural Theories

Keterkaitan Budaya dan Komunikasi

Stuart Hall menyatakan bahwa budaya dan Komunikasi tidak bisa terpisahkan. Beberapa ahli menempatkan budaya sebagai salah satu faktor dalam Komunikasi. Menurut mereka budaya-budaya saling berinteraksi dalam sebuah momen komunikasi.

            Menurut Hofstede, terdapat empat jenis budaya menurut dimensinya. Empat jenis budaya tersebut diantaranya budaya individualis & kolektivis, uncertainty avoidance, power distance, dan masculinity & feminity. Dimensi individualis dan kolektivis membedakan masyarakat berdasar pemaknaan tiap anggota masyarakat tersebut terhadap kelompok dan individu. Dimensi Uncertainty Avoidance membedakan masyarakat dari cara pandang masyarakat tersebut terhadap perbedaan. Dimensi power distance membedakan masyarakat dari cara pandangnya terhadap kelas-kelas di masyarakat. Sedangkan masculinity dan feminity merupakan dimensi yang membedakan masyarakat dari karakternya dalam menghadapi masalah yang berpatokan pada sifat gender. 

High Context & Low Context

Teori ini didasari teori individual & collectivism. Teori ini mengkategorikan masyarakat melalui banyaknya simbol-simbol ataupun makna yang tersembunyi dalam setiap interaksi. Semakin banyak simbol atau makna yang tersmbunyi semakin ia bersifat High Context Culture.

 

Teori-Teori Dalam Komunikasi Multikultural

Face-Negotiation Theory (Stella Ting-Toomey)

Teori ini menjelaskan perbedaan-perbedaan budaya dalam merespon konflik. Beberapa cara merepon konflik dibedakan menjadi:Avoiding (penghindaran), Obliging (keharusan), Compromising, Dominating, dan Integrating.

Conversational Constrain Theory (Howard Giles:1973)

Teori ini mengatakan terdapat strategi dalam berkomunikasi dan berinteraksi. Strategi di sini adalah cara individu mengakomodasi konsep pesan yang dipahami dan disampaikan sebaik mungkin agar tidak terjadi ‘benturan’ budaya dan kesalahan pemahaman dari konsep verbal maupun non verbal.

Expectancy Violations Theory (Burgoon)

Teori ini berpendapat bahwa manusia memiliki dua kebutuhan yang saling bertarung, yaitu: afiliasi dan ruang pribadi. Berikut ini jarak-jarak dalam berinteraksi. Jarak intim: 0-18 inci; Jarak personal: 46cm – 1,2 meter. Jarak sosial:  1,2 meter – 3,6 meter. Jarak publik: 3,7 meter

Anxiety/Uncertainty Management Theory (William Gudykunst)

Teori ini memfokuskan pada perbedaan budaya pada kelompok  asing atau orang asing. Interkasi kita dengan orang asing dipengaruhi oleh: Konsep diri, motivasi untuk berinteraksi dengan orang asing, reaksi terhadap orang asing, kategori Sosial dari orang asing, proses situasional, dan koneksi dengan Orang Asing

Communication Accomodation Theory (Kim Min Sun)

Teori ini menerangkan terdapat lima kendala atau hambatan dalam percakapan universal yaitu kejelasan, meminimalkan pengenaan, pertimbangan terhadap perasaan orang lain, resiko evaluasi negatif terhadap penerima pesan, dan efektivitas.

Tanggapan

Teori-teori ini memang tidak mampu menjawab semua masalah dalam komunikasi, namun hanya sebagian saja. Masalah-masalah komunikasi baru mampu diatasi dengan berbagai aspek seperti pengalaman, intuisi, dan pengetahuan komunikator. Berbagai macam teoriyang terus dipelajari dan diterapkan lama kelamaan akan menjadi sebuah intuisi yang mengantarkan pada kecakapan berkomunikasi.

Tanggapan tentang teori High Context dan Low Context mengantarkan pandangan ke pertanyaan bagaimana posisi Indonesia dalam dimensi tersebut. Indonesia yang menjadi bagian dari kebudayaan Timur dan didominasi budaya Jawa lebih cenderung masuk ke budaya High Context Culture. Simbol-simbol banyak digunakan dalam sebuah interaksi dalam kebudayaan di Indonesia. Banyak makna-makna tersembunyi yang harus dipahami dalam berinteraksi dengan masyarakat Indonesia.

 

 

Charles Darwin dan Teori Evolusi

Inti dari Teori E volusi Darwin mengatakan bahwa makhluk terkuatlah yang bertahan di alam ini. Makhluk yang tidak kuat terhadap tuntutan alam akan sulit hidup, mati, bahkan punah sehingga tidak dapat berkembang biak. Teori darwin ini merupakan hasil dari penelitiannya di daerah Galapagos. Darwin meneliti burung yang ada di Galapagos.

            Kritik tentang teori Darwin ini muncul dengan mempertanyakan kreatifitas dari makhluk hidup yang bisa menjawab tantangan alam. Darwin lebih cenderung melihat makhluk hidup tidak bisa kreatif dalam menghadapi tantangan alam. Makhluk hidup menurutnya hanya menerima tantangan yang dihadapi dengan kemampuan bawaan seadanya sehingga kalaupun ia bertahan dengan kemampuannya itu, ia akan terus eksis.

            Teori Darwin ini sangat terkenal. Teorinya ini tidak hanya mempengaruhi ilmu alam namun sudah jauh mempengaruhi keilmuan sosial.  Beberapa Ilmuan Sosial yang terpengaruh oleh pemikiran Darwin ini adalah Sspencer, J.B. Lamacrk, Robert Maltus, dan Adam Smith.

            Spencer menggunakan dasar teori Darwin dalam mengembangkan teorinya tentang perkembangan manusia. Menurutnya manusia berkembang dari perilakunya yang barbar ke perilaku modern karena adaptasi. Ia juga menjelaskan masyarakat berkembang dari Homogen ke masyarakat Heterogen. Heterogenitas atau diferensiasi yang menurutnya semakin nampak dalam masyarakat ini baik untuk kestabilan sosial.

J.B. Lamarck menggunakannya sebagai dasar dalam menjelaskan bahwa spesies manusia telah mencapai puncak perkembangan evolusi makhluk hidup. Sedangkan Robert Maltus menggunakan Teori Darwin ini untuk memperkuat teorinya tentang perkembangan kuantitas manusia yang mengikuti aturan deret ukur, dan makanannya berkembang mengikuti deret hitung. Adam Smith yang terkenal sebagai pelopor ilmuan Ekonomi menggunakan dasar teori Darwin juga dalam menjelaskan keterbatasan sumber daya alam dalam hubungannya dengan kebutuhan manusia. Satu lagi ilmuan besar Sosial yang menggunakan dasar teori ini yaitu Karl Marx. Ia menggunakan teori ini untuk mendasari penjelasannya tentang Dialektika Materialisme.

            Darwinisme juga mempengaruhi perkembangan Ilmu Komunikasi. Ilmu Komunikasi mengembangkan kajian komunikasi nonverbal yang beranggapan bahwa manusia mempunyai perilaku-perilaku naluriah kebinatangan walaupun telah tersamarkan oleh norma-norma yang telah terinternalisasi padanya.

 

Sigmund Freud dan Psikoanalisis

            Freud berpendapat bahwa manusia sejak ia bayi memiliki hasrat seksual. Ia menjelaskan panjang lebar tentang hal tersebut dengan gambarannya tentang Oedipus Complex yaitu kecintaan seorang anak terhadap orangtuanya secara seksual. Freud mengembangkan pemikirannya dengan membagi kesadaran manusia menjad tiga tingkatan. Tingkatan tersebut mulai dari sadar, pra sadar, dan bawah sadar.

Ia beranggapan bahwa unconsciouness (bawah sadar) adalah bagian penting yang mempengaruhi perilaku manusia. Unconscious adalah ‘reservoir’ dorongan insting dan gudang penyimpanan segala pemikiran dan harapan. Unconscious tersebut tIdak muncul dalam kesadaran yang disebabkan oleh konflik psikologis. Freud mengemukakan tiga struktur spesifik kepribadian yaitu Id, Ego dan Superego.

Id merupakan dorongan yang muncul dari unconscious yang menyimpan dorongan-dorongan biologis manusia (pusat insting). Id bergerak berdasarkan pleasure principal. Id secara khusus memusatkan diri pada pemuasan tanpa memperhatikan logika, realitas atau moralitas. Id merupakan tabiat hewani manusia, bersifat menuntut, impulsive, dan kekanak-kanakan. Ada 2 insting dominan yaitu: LibIdo (eros) merupakan insting reproduktif yang memberi energi dasar untuk kegiatan konstruktif. Seperti seks, cinta diri, kasih ibu, dll. Sedangkan insting Thanatos merupakan dorongan destruktif dan agresif (instink kematian).

Ego mengatur tuntutan Id dengan realitas dunia luar. Id mencari pemenuhan kepuasan namun tIdak dapat menentukan perbuatan yang berbahaya atau aman. Ego berperan sebagai mediator antara hasrat hewani manusia dengan tuntutan rasional.

Superego atau polisi kepribadian, mewakili gambaran Ideal dan standar moral masyarakat yang diajarkan orang tua pada anaknya. Sering diistilahkan dengan hati nurani (conscience), yaitu internalisasi norma sosial dan cultural. Id dan superego berada di bawah alam sadar. Superego secara terus-menerus menekan dorongan seksual dan kesenangan untuk memenuhi tuntutan Ideal moralitas. Superego akan menimbulkan perasaan bangga dan harga diri apabila sudah melakukan perbuatan ‘baik’ dan akan merasa bersalah apabila merasa melakukan perbuatan ‘jahat’.

 

Teori ini juga mendapat banyak kritikan dari ilmuwan lain. Menurut mereka teori

Psikoanalisis bukanlah murni sebuah ilmu, tetapi mereka mengatakan bahwa teori Freud sebagai pseudosience.

 

Karl Marx

Marx lahir di Jerman pada tahu 1818. Ia adalah anak seorang yahudi yang Kaya atau Borjuis dan penganut Sekuler. Ia memiliki latar belakang pendidikan dalam bidang Hukum dan Teologi.

Marx berkembang di masyarakat yang memperlihatkan pertentangan kelas. Karl Marx mendapat gelar Doktor dari University of Berlin. Karirnya diwarnai dengan keterlibatan dalam kegiatan politik dan revolusi membela kaum miskin. Sikap dan pemikirannya yang frontal membuat ia selama hidup berpindah-pindah negara karena.

  

 

            Karl. Pemikiran-pemikirannya didasari pada prinsip Hegelian. Beberapa prinsip Hegelian yang ia jadikan pijakan antara lain, bahwa realitas adalah sebuah proses yang dinamis. Hegelian yang mengatakan sejarah manusia mengikuti suatu hukum tertentu juga menjadi pijakannya.

            Marx juga sangat tertarik pada pemikiran Hegel bahwa terdapat tesis, anti tesis, dan sintesa dalam setiap pemahaman. Ia juga sependapat dengan prinsip Hegel bahwa manusia merupakan makhluk kreatif yang mampu merubah keadaan. Selain itu ia juga setuju tentang gagasan alienasi dalam masyarakat. Marx mengatakan, “situasi yang mendesak, tiap individu harus mmbangun relasi, akomodasi, untuk membangun kerja sama”

            Marx memandang masyarakat bergerak dalam proses perkembangan dimana konflik diperlukan untuk mengakhiri konflik yang terus terjadi.Menurutnyakedamaian dan harmoni di masyarakat akan tercapai setelah terbentuknya sejarah perang dan revolusi. Tahap perjuangan kelas bawah diperlukan dalam mengawali terbentuknya sebuah masyarakat yang memiliki hak pribadi dan hubungan sosial yang tertata. Konflik ekonomi menurutnya akan berakhir bila masyarakat tanpa kelas terbentuk atau ia sebut sebagai masyarakat Komunisme.

 

Diskusi

Diskusi membahas Marxisme mengantarkan ke pembicaraan tentang Komunisme dan Atheisme. Doktrin Orde Baru telah mengantarkan pemahaman masyarakat Indonesia dan mengaburkan pengertian Atheisme dan Komunisme. Kedua hal tersebut seolah-olah dua kata yang memiliki makna sama. Kedua hal tersebut sebenarnya berbeda. Secara sederhana bisa dikatakan bahwa Atheisme adalah paham anti Tuhan, sedangkan Komunisme adalah paham anti kelas.

Atheisme dekat dengan Komunisme karena cara pandang orang Komunisme dalam melihat keadaan saat ini adalah masa perjuangan kelas. Masyarakat dalam masa perjuangan kelas  menurut penganut Komunis tidak seharusnya membuang-buang waktu untuk menjalankan ajaran agama. Menurut mereka harusnya masyarakat mengesampingkan semua hal, dan harus berfokus pada perjuangan untuk mencapai masyarakat Komunis. Akhirnya para pejuang komunis ini mencap agama sebagai candu yang melemahkan perjuangan untuk meraih pola masyarakat Komunis.

 

 

 

 

 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: