Muhammad Irawan Saputra

Priming: Efek “Brainwash” Dalam Film

Film saat ini menjadi wadah dalam melakukan brainwash terhadap penontonnya. Film telah dimanfaatkan oleh produsen dari berbagai produk untuk membujuk penonton dengan tanpa disadari oleh calon konsumennya tersebut. Pernyataan ini tidak terlalu berlebihan. Persaingan ketat antar produk mengantarkan produsen untuk menempuh segala cara untuk membuat produknya terjual. Salah satu cara membujuk konsumen adalah memanipulasi alam bawah sadar calon konsumen. Bujukan itu dilakukan dengan menampilkan suatu gambar atau memperdengarkan suara tanpa disadari penonton. Tampilan yang ditunjukkan kepada penonton tanpa disadari oleh mereka menurut beberapa penelitian mampu mempengaruhi tindakan, termasuk pembelian. Ketidaksadaran penonton terhadap gambar atau suara ini terjadi karena durasi yg sangat singkat dari munculnya gambar atau suara tersebut. Pengaruh dari bujukan produsen ini dinamakan priming. (shrum,2010,h.86)
Priming ini bisa didapat setidaknya dengan tiga cara, yaitu priming perseptual, konseptual, dan juga emosional.

Priming perseptual misalnya didapat dari tampilan sekejap suatu merek mobil di latar belakang sebuah film bisa berpengaruh terhadap pembelian mobil. Priming perseptual ini akan memiliki dampak yg lebih besar bila semakin mirip antara tampilan dan produk.(bornstein et al.)

Cara kedua adalah priming konseptual. Cara ini dilakukan produsen dengan menampilkan konsep-konsep untuk mempengaruhi penonton. Konsep tentang manusia modern  seseorang didapat dari kebiasaan seseorang membawa pekerjaannya di sebuah cafe tertentu membuat orang rutin bekerja dengan menikmati suasana cafe.

Kemudian cara yg ketiga adalah memunculkan priming emosional. Cara ini dilakukan produsen dengan menampilkan ekspresi emosional pada tampilan produk di sebuah film. Tampilan seperti ini menurut penelitian zajonc menentukan tindakan termasuk pembelian.

Manipulasi Iklan Pada Pikiran Penonton

gizmo

gambar: http://www.streetfilms.org

Gambar tersebut adalah salah satu scene dari film Captain America. Apakah anda pernah berpikir bahwa terdapat banyak iklan yang bisa dimasukkan dalam sebuah scene film. Hal itu secara ilmiah ternyata memberikan efek yang sangat besar terhadap pemasaran dari produk dari logo-logo yang tampil dalam sebuah film. Tentunya dengan besarnya efek yang diterima oleh produk tersebut, logo-logo perusahaan yang tampil tidak dengan begitu saja bisa tampil dalam sebuah film dengan gratis. Pembuat film dan perusahaan tentu telah membuat kesepakatan-kesepakatan bisnis tentang hal itu.

Berikut penjelasan ilmiahnya. Sebuah penelitian tentang “Gizmo” (teknik memasukkan gambar sisipan/subliminal) yang dilakukan Fisher pada tahun 1956 (Shrum, 2010, h. 16-21). Ketika beberapa orang diberi paparan gambar sekilas tentang gambar dua kucing dan satu burung yang tersamarkan dalam rentang waktu 10 ms (mili detik). Walaupun tidak ada yang mengatakan bahwa mereka melihat burung tetapi siratan adanya gambar burung di memori beberapa orang tersebut. Ketika di stimulus dengan kata “dog” ada orang yang menggambar rumah dengan anjing penjaga namun model anjingnya berbuntut seperti burung ketika mereka disuruh menggambarkan bayangan mereka. Ketika di stimulus tentang kata bantal maka mereka merespon dengan kata bulu dan goresan lukisannya menyerupai burung, begitupun dengan stimulus sakit mereka menggambar pasien dengan lipatan selimut yang menggariskan bentuk burung. Psikolog modern berpendapat bahwa ketika orang tidak menangkap pola burung, itu mencerminkan sensitivitas rendah dari penonton. Ketika menjalani penelitian ini subjek penelitian bertanya-tanya bahwa mengapa dia terus menggambar seekor burung, dan dia sangat tahu bagaimana cara menggambar seekor anjing dan sering mengggambarnya.

Tentu merek-merek yang masuk dalam scene tersebut akan mempunyai efek yang cukup besar kepada penonton menurut penelitian ini. Merek tersebut diantaranya adalah McDonald dan juga merek mobil Acura. Gambar kecil tersebut tentu akan masuk ke dalam memori penonton dan suatu saat ketika penonton itu lapar atau akan membeli sebuah mobil  atau menyarankan pembelian mobill kepada orang terdekat, maka logo-logo yang telah masuk kedalam pikiran itu tentu akan lebih mendominasi pikiran mereka.

 

Pustaka:

Shrum, L.J. (2010). Psikologi Media Entertainment: Membedah Keampuhan Periklanan Subliminal dan Bujukan yang Tak Disadari Konsumen (1st ed.). (Ismanto, Terjemahan). Yogyakarta: Jalasutra.

Sistem Penyiaran Digital

(2012)

Sistem Penyiaran Baru yang akan dijalankan pemerintah adalah System Multiplexy. Sistem ini dibagi menjadi network provider dan content provider. Network provider adalah penyedia jaringan dan  infrastruktur penunjang siaran. Network Provider menyediakan frekuensi dan segala hal infrastrukturnya seperti antenna dll. Sedangkan Content Provider adalah penyedia acara-acara yang ditayangkan di media siar.

Sistem Penyiaran analog yang selama ini digunakan akan digeser oleh sistem penyiaran digital. Pergeseran ini akan dimotori oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.

Proyek ini pertamakali diujicoba pada tahun 2006 di Jakarta dengan menggunakan daya rendah. Konsorsium Televisi Digital kemudian mengadakan uji coba lagi pada tahun 2009 dengan daya pancar 5 KW. Sistem televisi digital ini akan diselenggarakan secara serentak di seluuh Indonesia pada tahun 2018. Siaran televisi analog secara

Pemerintah menjanjikan detail yang lebih bagus dari sisi audio maupun visual. Sisi visual dengan sistem digital ini akan menyajikan gambar yang lebih lebar atau widescreen. Sisi audio akan menyajikan kualitas suara 5.1 channel surround sound.

Siaran digital diterima dengan frekuensi UHF, tidak bisa menggunakan VHF. Siaran digitalpun harus menggunakan televisi digital. Pemerintah menyediakan solusi apabila masyarakat tidak mau mengganti televisinya dengan televisi digital.Solusi yang ditwarkan adalah dengan menyediakan alat sehingga televisi biasa bisa menerima siaran digital. Alat tersebut bernama Set Top Box. Alat ini sayangnya tidak disediakan pemerintah secara gratis, namun masyarakat masih harus membayar. Cara lain untuk mendapatkan siaran digital adalah dengan mengaksesnya lewat telepon seluler yang dilengkapi penerima televisi digital DVB-T.

Sistem televisi digital inipun memiliki fasilitas tambahan lain yaitu bisa terkoneksi dengan internet. Sambungan internet dengan televisi ini memungkinkan format baru dalam interaksi media dengan penontonnya. Selain itu televisi digital juga memungkinkan penonton mengakses berita dan informasi cuaca dengan hanya menggunakan remote televisi. Jadwal siaranpun juga tersedia dalam menu yang mampu diakses dengan remote.

 

Saran Untuk Baiknya Pola Penyiaran

Pola digitalisasi yang akan dikembangkan menurut saya baik pada dasarnya. Digitalisasi akan menambah frekuensi yang bisa ditempati media baru. Hal ini tentu akan menambah tempat bagi banyak media untuk berekspresi.  Banyaknya media ini tentu menjanjikan keanekaragaman sudut pandang pada suatu masalah asalkan tidak terdistorsi oleh konglomerasi seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Pola televisi digital yang akan dibentuk berupa dua bagian yang berperan yaitu content provider dan network provider. Sisi Network Provider tidak akan terlalu berpengaruh terhadap demokratisasi informasi. Sisi Content Provider inilah yang sangat berpengaruh terhadap manipulasi informasi. Content Provider ini menyediakan acara apa saja yang muncul di satu frekuensi.

Keberagaman informasi akan terwujud ketika content Provider ini tidak hanya dimonopoli satu pihak. Menurut saya bagian ini harus bisa diisi oleh semua pihak yang ingin berekspresi di media. Penunjukan siapa yang pantas mengisi satu blok waktu di suatu frekuensi harus diatur oleh pihak independen yang berperan sebagai penanggung jawab (lembaga sejenis KPI).

Pola ini memungkinkan semua orang mampu berekspresi dan mengangkat budaya dari berbagai persepsi. Pola yang terbentuk seperti itu memungkinkan mahasiswa atau bahkan siswa SMA membuat acara sendiri dengan sudut pandang dan konten budaya apa yang mereka ingin munculkan.

Wacana yang berkembang bahwa satu frekuensi akan ditenderkan siapa yang berhak mengisi dalam waktu satu tahun akan sangat merugikan masyarakat. Pengikut tender dan pemenangnya selama ini yang terjadi adalah mereka yang bermodal besar, tentu akan mengarah lagi ke konglomerat media. Keadaan tersebut akan kembali mengarahkan masyarakat kepada kemiskinan sudut pandang.

 

Kearifan lokal diantara Gempuran Media

Kearifan Lokal memang masih setengah hati diangkat oleh media-media yang ada sekarang, khususnya media nasional. Media nasional masih sibuk mengangkat budaya-budaya populer baik dari Jakarta maupun dari pusat budaya dunia baik dari Eropa maupun dari pusat budaya baru yaitu Jepang dan Korea.

Budaya Lokal sebenarnya merupakan potensi besar untuk media di Indonesia bila bisa mengangkat dan mengemasnya. Bila kita lihat Jepang mampu mempergunakan budaya lokal untuk menyuarakan eksistensinya di dunia internasional. Korea Selatan pun sekatang sudah mengikuti jejak Jepang dalam hal ini.

Indonesia meiliki beribu-ribu budaya lokal yang siap diangkat dan dikemas. Usaha ini tentu akan mendapat tantangan dari budaya populer yang telah ada sekarang ini. Namun pekerjaan ini harus selalu ditingkatkan untuk membangun eksistensi Indonesia di kancah dunia.

Beberapa poin yang menurut penulis harus diusahakan dalam pengangkatan budaya nasional untuk menguatkan jati diri bangsa Indonesia melalui media.

1. Kerjasama Media dan Dunia Akademis

Sumber Daya Manusia yang ada di dunia akademisi melimpah ruah. Itulah yang harusnya.dipergunakan oleh media. Mahasiswa-mahasiswa membutuhkan tempat untuk menuangkan apa yang selama ini mereka pelajari.

2.Regulasi yang Tegas dan Tersistem Rapi

Regulasi yang tegas dan jauh dari ambiguitas tentu sangat diperlukan dalam usaha pengangkatan budaya nasional. Stereotip-stereotip yang merusak terhadap suatu budaya harus segera dihilangkan. Stereotip inilah yang menjadi penghalang dalam usaha ini. Kesan kampungan, terbelakang, arogan, pelit, dan banyak stereotip lain menjadi penghambat pengangkatan budaya-budaya ini. Sebuah acara dengan konten dari budaya yang terstereotip kampungan akan sulit untuk dikemas secara elegan dan populer. Demikian juga dengan acara yang berkonten suatu budaya yang terstereotip arogan akan sulit untuk dikemas secara hangat dan bersahabat.

Regulasi yang tersistem rapi dan terarah akan membuat pelestarian budaya lewat media ini akan berjalan baik. Regulasi yang tersistem sehingga memungkinkan setiap orang mampu mengapresiasikan budaya lewat media bisa sangat mendukung usaha pelestarian budaya.

3. Pelestarian Budaya oleh Pemerintah

Budaya yang tertata, terdokumentasi secara jelas tentu akan mudah dalam hal pengangkatannya di media. Indonesia memiliki ribuan budaya yang beraneka ragam. Pengelolaanya tidak menjadi perhatian serius pemerintah. Pihak yang ingin mengetahui atau mempublikasikan melalui berabagai media tentu akan kesulitan bila kesulitan akses terhadap budaya tersebut tidak tersedia.

Pelestarian budaya ini bisa meliputi pengarsipan, pendataan, dan dokumentasi lainnya yang diperlukan untuk setiap pihak yang ingin mengakses budaya tersebut. Ribuan kekayaan budaya ini tentu sangat disayangkan bila tidak terdokumentasi secara baik.

Referensi

Ecep S. Yasa, “Kepemilikan Media Televisi Pengaruhi independensi Pemberitaan”, http://www.kabar.in

Eoin Devereux, Understanding The Media (London: Sage Publication, 2005)

McNain, Brian.2000.Journalism&Democracy. London: Routledge.

http://nasional.kompas.com

http://www.fathurin-zen.com/?p=93

http://www.hukumonline.com

http://www.fathurin-zen.com/?p=93

Kode Etik Media Di Indonesia

Aturan untuk media telah dipersiapkan pemerintah dengan penerbitan UU tentang media yaitu UU No. 40/1999 tentang pers dan UU No. 32/2002 tentang penyiaran. Berdasarkan UU No. 32/2002. Terbitnya  peraturan ini mengubah skema penyiaran di Indonesia yang kini tidak hanya diproduksi oleh media milik negara. Aturan itu membuat stasiun radio dan televisi swastapun mampu berkiprah di dunia media .

Komisi Penyiaran Indonesia yang berfungsi mengawal diberlakukannya kode etik penyiaran dibentuk berdasar UU No. 32/2002 itu pula. Pedoman-pedoman penyiaran yang ada tersebut berisi sebagai berikut:

Pasal 27 UU No. 32/2002 :

  1. Lembaga penyiaran tidak boleh menjual jam tayang pada pihak manapun, kecuali iklan
  2. Lembaga penyiaran diperbolehkan menyiarkan program yang merupakan hasil kerjasama produksi dengan pihak lain atau disponsori pihak lain selama isi program dikendalikan lembaga penyiaran yang bersangkutan
  3. Dalam program berita, lembaga penyiaran dilarang memuat berita yang disajikan atas dasar imbalan tertentu (uang, jasa dan sebagainya)
  4. Dalam setiap program yang merupakan kerjasama produksi atau disponsori, lembaga penyiaran harus :
    • Memberitahukan kepada khalayak bahwa program tersebut merupakan kerjasama produksi atau disponsori. Pemberitahuan tersebut ditempatkan dalam cara yang memungkinkan khalayak dapat dengan mudah mengidentifikasi bahwa program tersebut didanai atau turut didanai oleh pihak tertentu;
    • Lembaga penyiaran dilarang menyajikan program kerjasama produksi atau disponsori oleh perusahaan yang memproduksi produk yang dilarang untuk diiklankan, misalnya minuman keras atau zat adiktif.

 

Sebuah media penyiaran yang baik tentu harus menjalankan perannya sebagai pembentuk masyarakat yang mengacu pada prinsip universal sebuah kode etik wartawan, prinsip itu mencakup :

  1. melaporkan kebenaran dan tidak bohong
  2. memeriksa akurasi berita sebelum dicetak atau disiarkan
  3. mengoreksi kesalahan yang diperbuat
  4. tidak boleh membeda-bedakan orang
  5. memperoleh informasi dengan jujur
  6. tidak boleh menerima suap atau pemberian lain yang dimaksudkan untuk memengaruhi liputannya
  7. tidak membiarkan kepentingan pribadinya mengganggu pekerjaan kewartawanan

 

Ideal sebuah Kode Etik

Sebuah kode etik yang baik tentu mengacu pada cita-cita tertingginya. Cita-cita media yang ideal tentu menjadi pewujud masyarakat yang demokratis. Cita-cita tersebut diungkapkan Jurgen Habermas dalam pemikirannya tentang cita-cita masyarakat yang berada dalam ranah publik ideal.

Konsep ‘ruang publik’ dimunculkan Jurgen Habermas dalam bukunya The Structural Transformation of The Public Sphere. Secara umum “public sphere” merujuk kepada ruang nasional yang menyediakan sedikit banyak kebebasan dan arena keterbukaan atau juga forum untuk debat publik (McQuail, 2005 : 181).

Public Sphere adalah ruang yang bisa diakses siapa saja. Ruang tersebut menjadi tempat untuk berkumpul, berekspresi, dan bermediasi. Hal tersebut harus bisa dilakukan siapa saja dalam tempat tersebut.

Referensi

Ecep S. Yasa, “Kepemilikan Media Televisi Pengaruhi independensi Pemberitaan”, http://www.kabar.in

Eoin Devereux, Understanding The Media (London: Sage Publication, 2005)

McNain, Brian.2000.Journalism&Democracy. London: Routledge.

http://nasional.kompas.com

http://www.fathurin-zen.com/?p=93

http://www.hukumonline.com

 

http://www.fathurin-zen.com/?p=93

Sepak Terjang Pemilik Media di Indonesia

Terlihat saat ini para pemilik media sangat kuat dalam posisi mereka dalam mengontrol asumsi masyarakat. Pemilik media secara leluasa mengontrol isi tiap media yang mereka punyai untuk mengarahkan pemikiran masyarakat. Abu Rizal Bakrie mampu mengalihkan perhatian masyarakat  terhadap kasus Lapindo dengan berbagai medianya. Pemerintah dengan partai Demokrat yang sudah tidak akur lagi dengan para pemilik media harus rela tersudut oleh kepungan kritik dari masyarakat yang diarahkan oleh media.   Menurut Meier, pemilik media dapat memainkan peranan yang signifikan dalam melakukan legitimasi terhadap ketidaksetaraan pendapatan (wealth), kekuasaan (power) dan privilege.

Pemilik Media sebagaimana pengusaha dalam bidang lain tentu mengalami pasang surut. Akuisisi dan Mergerpun terjadi seperti perusahaan-perusahaan lain sebagai salah satu mempertahankan eksistensi. Akuisisi dan Merger ini bagi pengusaha Media kelas kakap menjadi strategi dalam melebarkan sayap bisnisnya.

Sebagai contoh, Bakri melakukan strategi ini di ANTV. Ia juga mengakuisisi Lativi dan mengubah namanya menjadi TV One. ANTV yang dulunya diarahkan lebih ke keluarga diubah menjadi televisi dengan corak olahraga. Lativi yang dulunya jauh dari kesan televisi berita, sekarang sangat fokus ke televisi berita.

Chairul Tanjung juga tidak kalah langkah. Ia yang sebelumnya sudah memiliki Trans TV, mengakuisisi TV 7 dan mengubah namanya menjadi Trans 7. Kedua televisi miliknya ini mempunyai konsep hiburan. Keduanya hanya dibedakan oleh bidikan pangsa pasar.Trans TV mengambil pangsa pasar menengah keatas, sedangkan Trans 7 untuk kalangan menengah kebawah.

Contoh lain bisa dilihat dari kemunduran yang dialami oleh TPI dan Global TV. Kedua stasiun televisi ini akhirnya melakukan merger dengan RCTI yang akhirnya membentuk MNC Group. Bergabungnya TPI dengan Global TV dan RCTI di bawah satu atap ditandai dengan perubahan nama menjadi MNC TV. MNC Group mengembangkan bisnisnya tidak hanya di televisi, tetapi telah berkembang di radio, bahkan diluar dunia broadcasting yaitu asuransi.

Perusahaan media besar yang sukses berkembang di luar Jakarta, Jawa Pos Group pun melakukan strategi ini untuk mengembangkan pengaruhnya. Jawa Pos Group terkenal dengan Jaringan media lokal yang disebut Jawa Pos News Network (JPNN). Mereka mengangkat kelokalan tiap daerah dengan media yang telah mereka bentuk di tiap daerah tersebut. Jaringan ‘radar’ di tiap daerah berkembang sangat pesat. Jaringan ini adalah rubrik tambahan di tiap kota yang disisipkan di tiap koran Jawa Pos mendampingi berita-berita nasional. Jaringan ini memiliki kantor dan struktur di tiap kota. Setelah jaringan media cetak dengan radarnya kuat di satu kota mereka akan mengembangkan televisi di tiap kota dengan berdasar jaringan ‘radar’ tersebut. Televisi yang mereka kembangkan di tiap kota adalah JTV. Misalkan setelah ‘radar Kediri’ berkembang bagus saat ini sudah muncul JTV Kediri.

Pengaruh Merger dan Akuisisi Terhadap Isi Siaran

Merger dan Akuisisi tentu sangat berpengaruh terhadap isi media. Strategi ini membuat banyak media akan tunduk pada satu orang pemilik. Ketundukan ini akan menghasilkan produk media yang terkontrol searah sesuai dengan kemauan pemilik tersebut. Tiap media yang berada dibawah tangan satu pemilik tertentu akan terkungkung independensinya. Seperti telah dicontohkan sebelumnya TV One tentu tidak bisa dengan leluasa memberitakan Korban Lumpur Lapindo karena TV One dimiliki oleh orang yang juga memiliki Lapindo yaitu Bakrie Group.

Bukan hanya independensi saja yang menjadi korban atas adanya merger dan akuisisi ini, namun media akhirnya menjadi alat para pemilik media untuk mendukung kepentingan politiknya. Chairul Tanjung sebagai pemilik Trans TV dan Trans 7 secara terang-terangan dalam tayangan di televisinya memihak kepada satu partai. Metro TV yang dimiliki Surya Paloh secara terus menerus memberitakan setiap detail kegiatan satu partai dan mengangkat nama pemiliknya dalam politik dengan terang-terangan. Jawa Pos pun memberitakan dengan gencar dan detail setiap kebijakan yang dibuat oleh pemiliknya yang sekarang ini menjadi menteri.

Selain independensi yang terancam dan arahan pemilik, keberagaman isi media akan terancam juga dengan strategi ini. Nama-nama media yang begitu banyak tetapi hanya dimiliki oleh beberapa orang saja akan membuat informasi-isnformasi yang disampaikan akan seragam. Keadaan ini akan membuat masyarakat akan miskin referensi dari sebuah kejadian. Masyarakat hanya akan melihat dari beberapa sudut pandang saja mengenai suatu permasalahan. Padahal dengan banyaknya nama media yang ada seharusnya masyarakat akan memiliki sudut pandang sebanyak nama media tersebut. Sudut pandang inilah yang menentukan kedewasaan dalam mengambil sikap dalam permasalahan. Singkatnya akuisisi dan merger ini berpengaruh terhadap kedewasaan masyarakat dalam mengambil sikap.

Memang tidak mungkin menuntut media sangat netral dalam menyikapi semua masalah karena banyak faktor yang mempengaruhinya seperti yang dijelaskan pada jawaban nomor satu sebelumnya. Walaupun begitu, usaha untuk membuat media senetral mungkin tentu harus terus dilakukan. Kentralan dan keragaman isi media akan membuat masyarakat memiliki banyak referensi dan membuat masyarakat lebih dewasa dalam menyikapi sesuatu.

Faktor Yang Mempengaruhi Manajemen Industri Media

Penjelasan apa saja faktor yang mempengaruhi manajemen media sangat lengkap dijelaskan oleh Brian McNair dalam bagannya tentang ekonomi politik media berikut ini:

Image

Bila dijelaskan secara terperinci media dibatasi dengan lingkungannya yang

berupa budaya, regulasi, dan teknologi atau peralatan. Dari dalam media dipengaruhi. oleh pemodal yang memberikan arahan dan investasi dananya untuk operasional media yang juga imbal baliknya mengharapkan keuntungan dari iklan dan keuntugan lain yang masuk di media yang kesemuanya itu lewat mekanisme dari lembaga induk dari media tersebut. Lembaga induk dari media mempunyai kebijakan yang membentuk setiap gerak media, sebagai timbal baliknya lembaga induk mendapatkan pengaruh dari lembaga media tersebut.

Dalam sebuah lembaga media tersebut terjadi alur pengaruh dari dua divisi yaitu pemberitaan dan pemasaran. Interaksi diantara keduanya membentuk sebuah budaya organisasi yang menjadi pegangan setiap pekerja media dan menentuka pula pola kerjanya, seperti pencarian berita, editing, dan penyajian.

Lembaga media dalam hubungannya dengan pengiklan mempunyai simbiosis yaitu lembaga media memberikan perhatian dari penonton untuk produknya dan media menarik biaya sebagai kompensasi jasanya. Hubungan lembaga media dan sumber berita terjadi dengan diberikannya informasi untuk media dan sumber berita diberi perhatian penonton media sebagai imbalannya.

Sedangkan hubungan media dengan konsumennya adalah konsumen memberikan apresiasi dan uangnya secara langsung atau tidak langsung (melalui pengiklan) ke media dengan imbal balik dari media yaitu disajikannya berita.

Berita yang disajikan media membentuk pola pikir konsumennya sehingga konsumen media ini yang menjadi bagian dari masyarakat umum menggunakan pola pikirnya untuk berpengaruh di lingkungannya (masyarakat umum). Imbal balik uang langsung yang diterima dari konsumen dalam hal media televisi kurang umum terjadi di Indonesia, kecuali penggunaan televisi berlangganan itupun persentasenya kecil sekali. Imbal balik uang yang umum dari penonton ke media lebih banyak terjadi secara tidak langsung, yaitu melalui konsumen membeli produk pengiklan dan pengiklan memberikan kompensasi jasa untuk media atas publikasi produknya.

Referensi

Ecep S. Yasa, “Kepemilikan Media Televisi Pengaruhi independensi Pemberitaan”, http://www.kabar.in

Eoin Devereux, Understanding The Media (London: Sage Publication, 2005)

McNain, Brian.2000.Journalism&Democracy. London: Routledge.

http://nasional.kompas.com

http://www.fathurin-zen.com/?p=93

http://www.hukumonline.com

 

http://www.fathurin-zen.com/?p=93